Mereka Bukan Nelayan

Mentawai memang daerah Kepulauan. Sungguhpun demikian, laut bukanlah akar budaya penduduk asli Mentawai.  Belum kutemukan referensi (atau aku yang kurang baca buku) kenapa laut tidak menjadi akar budaya penduduk asli Mentawai.

Dalam keseharian, penduduk asli Mentawai menggantungan hidupnya dari hasil hutan, mulai dari sumber pangan seperti sagu, buah-buahan dan binatang buruan sebagai sumber protein. Di Mentawai, budaya bertani (budidaya) masih baru mulai berkembang dibanding daerah lain seperti dari etnis Jawa,  Minangkabau dan Batak.

Sarana transportasi biasa mereka gunakan sampan dayung. Kemudian mereka kenal dengan mesin boat. Tetapi karena mesin boat harganya mahal, maka tidak banyak masyarakat yang memilikinya.

Saat ini di Mentawai sudah berkembang mesin pendorong sampan dengan kekuatan 5pk. Ini mesin sebenarnya untuk kukur kelapa. Kemudian ada yang memodifikasi dengan memperpanjang as dan diberi baling-baling. Jadilah mesin pendorong sampan. Karena mesin ini sering dilepas-lepas, untuk kukur kelapa – pendorong sampan – ada juga untuk mutar dynamo listrik, maka mesin ini akhirnya dikenal dengan nama pompong. Pong dalam bahasa Mentawai artinga lepas. Karena harganya relative murah, sekitar 3 juta rupiah, maka mesin pendorong sampan ini banyak dimiliki oleh masyarakat.

Foto ini kujepret di Teluk Maileppet ketika sore hari mau berangkat ke Padang naik  kapal ferry Ambu-Ambu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s