Legenda Bujang Sembilan

Unggun 546-1sxx

Intip Danau Maninjau dari Lawang Park

Intip Danau Maninjau dari Lawang Park

Kisah Legenda ini bercerita tentang awal mula kejadian Danau Maninjau. Kisah ini disadur dari berbagai sumber, mulai tutur sampai yang dimuat di website, seperti Melayu Online.

Dikisahkan, diseputar  kawah Gunung Tinjau terdapat perkampungan yang penduduknya hidup makmur.  Mereka hidup berkecukupan karena memiliki dan mengolah lahan pertanian yang subur , dimana keseburun ini dibebabkan adanya abu vulkanik dari Gunung Tinjau.

Di perkampungan ini tinggal sepuluh orang bersaudara yang sudah ditinggal mati oleh orang tuanya. Tanggung jawab kepala keluarga diambil oleh si Sulung, dan semua keputusan keluarga ada di tangannya. Mereka terdiri sembilan laki-laki dan satu perempuan. Sil Sulung bernama Kukuban, dan adik-adiknya adalah Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Adik paling bungsu mereka perempuan bernama Sri Rasani yang akrab dipanggil Sani.

Mereka tinggal bersama di rumah peninggalan kedua orang tuanya.

Ini bukan Giran dan Sani yang sedang memadu kasih.

Ini bukan Giran dan Sani yang sedang memadu kasih.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengolah lahan pertanian yang luas warisan orang tuanya. Dalam keseharian, mereka juga dibimbing oleh pamannya yang bernama Datuk Limbatang yang akrab mereka panggil Engku.

Di perkampungan ini, Datuk Limbatang adalah Mamak Kampung dan memiliki seorang anak Laki-laki bernama Giran. Sebagai seorang mamak Dia memiliki tanggung jawab besar, yaitu mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut bersamanya.

Bumi berputar hari berlalu hingga pada suatu kunjungan Engku bersama keluarganya ke rumah Bujang Sembilan, Giran yang sudah berangkat dewasa tanpa sengaja  bertemu pandang dengan Sani. Hati kedua cucu Adam ini ternyata saling bertaut, hingga pada suatu saat Giran memberanikan diri mengajak Sani bertemu di ladang pinggir sungai. Gayung bersambut, dan ketika mereka bertemu, dengan hati berdebar Giran mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

soreMnjau 292-1s“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”
 
“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”
 
“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”
 

“Dik Sani, wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran. Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.

LawangPark 135s“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”
 
“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”
 

Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia  cintahnya bersambut.

Sejak saat itu mereka menjalin kasih. Awalnya mereka mau menyembunyikan hubungan ini, tetapi karena takut fitnah, akhirnya mereka menceritakan hubungan ini kepada keluarga masing-masing. Oleh kedua keluarga, berita ini disambut gembira dan Giran mulai sering berkunjung kerumah Sani, bahkan pada kesempatan tertentu Giran ikut membantu kerja di sawah dan pekerjaan lain.

LawangPark 242sKebiasaan penduduk Kampung tempat Bujang Sembilan tinggal, ketika usai panen mereka biasa melakukan syukuran. Panen musim itu selain syukuran, mereka juga melakukan lomba adu ketangkasan bermain silat. Acara ini disambut gembira oleh pemuda kampong dan mereka ramai mendaftarkan diri.

Lomba dilaksanakan menggunakan cara siapa yang menang akan bertanding dengan peserta berikutnya. Kukuban yang ahli berhasil mengalahkan lawan-lawannya hingga pada peserta terakhir maju. Ternyata peserta terakhir yang menjadi lawan Kukuban adalah Giran.

“Hai Giran, majulah..” tantang Kukuban.

“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban

Adu ketangkasan antara Kukuban dan Giran berlangsung sengit. Mereka lawan seimbang. Awalnya Giran menyerang bertubi-tubi membuat Kukuban kuwalahan, tetapi tak berlangsung lama. foLLowUP 474-1sPada satu kesempatan, Kukuban berhasil melakukan serangan balik. Kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan dan terus melakukan serangan gencar yang membuat Giran semakin tersdesak dan tersudut.

Pada detik yang menentukan, Kukuban melancarkan tendangan kirinya yang dahsyat. Rupanya Giran sudah membaca dan mempersiapkan diri. Tendangan keras Kukuban ditangkis Giran dengan menggunakan kedua belah tangannya. Ketika terjadi benturan keras, penonton dikejutkan dengan teriakkan “Aduh, sakit…! Kakiku patah!”.

Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kiri Kukuban patah dan dia langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan. Kukuban tak sanggup melanjutkan pertandingan dan Giran dinyatakan sebagai pemenang.

Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.

foLLowUP 540sBeberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap. Hal itu bermula ketika suatu malam Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.

 “Maaf, Bujang Sembilan. Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.

“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.

“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.

“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri. “Begini, Anak-anakku kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.

LawangPark 205s“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku ! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran  pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.

Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, terdengar suara bentakan keras dari Kukuban. “Tidak..! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka..! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah. “Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.

“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.

“Ada  Engku…! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.

foLLowUP 465-1s“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang sambil tersenyum. “Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.

“Tapi Engku..! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.

“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.

“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.

Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.

foLLowUP 129-1s“Maaf Anakku..! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.

“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”

 “Ketahuilah Anakku, menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya. “Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.

foLLowUP 210s“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.

Rupanya, Sri Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi. “Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.

“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.

soreMnjau 030sBeberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.

“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.

“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.

Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.

“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.

Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.

“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.

Unggun 179-1ws“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.

“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.

“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.

Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.

soreMnjau 039sKeputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.

“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.

Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa. “Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. foLLowUP 224sJika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.

Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.

LawangPark 190-1sCerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

siapa tak tahu kesalahan sendiri,
lambat laun hidupnya keji
kalau suka berdendam kesumat,
alamat hidup akan melarat

One response to “Legenda Bujang Sembilan

  1. Ping-balik: DANAU MANINJAU | Foto Koleksiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s