Indonesia Raya di Tinambu

….hiduplah indonesia raya……    Serentak anak-anak Sekolah Uma di dusun Tinambu itu melantunkan lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan Negara Indonesia.

Dengan semangat, lagu kebangsaan ini menggema di depan gereja yang selama ini mereka jadikan ruang belajar. Kelas 1 sampai kelas 4 ada dalam satu ruangan tanpa sekat dengan diajar oleh 2 orang guru.

Terusik rasa kebangsaanku, melihat dan mendengar anak-anak ini melantunkan lagu Indonesia Raya.

Terusik rasa kebangsaanku, melihat dan mendengar anak-anak ini melantunkan lagu Indonesia Raya.

Padang Pasar Raya Square

Pasar Raya Square

Padang Pasar Raya Square

Pasar Raya Square. Ini nama terkesan wah dan keren. Dalam aspek program, Pasar Raya Square seolah merupakan kebijakan yang bijak dan berpihak kepada warga kota Padang.

Namun jika dicermati lebih jauh, Pasar Raya Square seperti pasar tumpah dan jauh dari nyaman. Sudahlah sempit, mobil dan sepeda motor ikut masuk pasar. Karena tak didukung dengan terminal kota, keberadaan Pasar Raya Square juga berkontribusi bikin macet jalan di sekitar kawasan itu.

Semrawut disamping bangunan (Matahari Mall) yang rontok akibat gempa 2009

Menjamur disamping bangunan (Matahari Mall) yang rontok akibat gempa 2009

Macet di jalan Permindo

Macet di jalan Permindo

Mobilpun ikut belanja

Mobilpun ikut belanja

Jejak PDRI di Bidar Alam

PDRI 086+LiS3 Januari 1949, Rombongan Sjafruddin Prawiranegara berangkat dari Sungai Dareh ke Bidar Alam via Aabi Siat dan Abai Sangir. Rombongan dibagi menjadi tiga :

  1. Rombongan Induk dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara, menempuh jalur Sungai Batang Hari dengan mempergunakan sampan yang digerakan dengan dayung dan galah dari bamboo.

    PDRI 104_sender auri

    Sender AURI di Bidar Alam 1949

  2. Rombongan Keuangan dipimpin oleh Mr. Loekman Hakim (Menteri Keuangan PDRI) menuju Muara Tebo dengan naik perahu bermotor, membawa klise oeang RI Poeloe Sumatera (ORIPS) untuk dicetak di Muaro Bungo.
  3. Rombongan Satsiun Radio dipimpin oleh Wakil PDRI Mr. Teuku Hasan, mengambil jalan darat karena takut tenggelam, dengan berjalan kaki menuju Abai (setelah berpisah kurang lebih 2 minggu mereka bertemu kembali di Bidar Alam).

    Tugu Peringantan Basis Pemerintahan Darurat RI 1949

    Tugu Peringantan Basis Pemerintahan Darurat RI 1949

15 – 25 April 1949, Rombongan Sjafruddin Prawiranegara secara bertahap meninggalkan Bidar Alam menuju Sumpur Kudus, tempat musyawarah besar pimpinan PDRI akan diadakan.

5 Mei 1949, Rombongan PDRI Sjafruddin Prawiranegara, secara lengkap tiba di Desa Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui desa-desa antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti (menginap satu malam) dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

Air Terjun Baburai

FDsikucue 110s

Air Terjun Baburai berada di Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Lokasi air terjun sekitar 78 km dari kota Padang, 58 km dari Bandara BIM dan 20 km dari Kota Pariaman.

Untuk mencapai lokasi Air Terjun, jika menggunakan Sepeda Motor akan bisa langsung sampai lokasi. Kalau menggunakan mobil, untuk mencapai lokasi mobil harus diparkir di luar (perkampungan) dilanjutkan dengan berjalan kaki. Topografi yang bergelombang, jalur menuju Air Terjun menjadi tantangan yang asyik dan menjadi pengingat bagi penggemar SIGARET alias Rokok.

FDsikucue 123sFDsikucue 132-1s

DANAU MANINJAU

maninjau 8 batimetri -2Danau Vulkanik yang memiliki luas ±99,5 km2  dan kata orang memiliki kedalaman  495 meter ini terletak di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, West Sumatra. Danau yang kata data LIPI memiliki kedalaman maksimal 165m dan ada sebagian data mengatakan 495 m ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 km dari Bukittinggi dan 27 km dari lubuk Basung.Dari kota Padang, perjalanan dapat ditempuh sekitar 3 jam.

Keberadaan Danau Mninjau erat kaitannya dengan Cerita Legenda BujangSembilan yang akhirnya kena kutuk menjadi ikan penghuni danau, akibat dendam mereka melakukan fitnah dan memberikan kesaksian palsu.

View Danau Maninjau dari Lawang Park

View Danau Maninjau dari Lawang Park

Dalam legenda diceritakan Giran dan Sani (adik bungsu Bujang Sembilan) di tuduh melakukan Zina dan diadili diperadilan adat. Karena dianggap salah, Giran dan Sani dihukum dengan diceburkan ke dalam Kawah Gunung Tinjau.

Pantun kasih antara Giran dan Sani

Pantun kasih antara Giran dan Sani

tamanLawang 063sMenjelang eksekusi hukuman, Giran berkata lantang :  “Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.

Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa. “Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”

tamanLawang 061-1sKarena Giran dan Sani tidak salah, Gunung Tinjau meletus meluluh lantakkan perkampungan beserta isinya. Bekas letusan meninggalkan kawah yang cukup besar yang sekarang dikenal dengan Danau Maninjau. Sementara Bujang Sembilan termakan sumpah Giran dan Sani menjadi ikan penghuni Danau.

Nama-nama tokoh dalam legenda tersebut  diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang. Lebih lanjut tentang cerita Legenda Bujang Sembilan, silahkan KLiK gambar.

Wisata Publik

oldCity 128-1sSejak dibangun jalan sejajar pantai, Pantai Purus sudah menjadi tujuan wisata Publik. Cafe tenda menjamur di wilayah ini dan pada musim libur, daerah ini dipenuhi oleh pengunjung. Biasanya hari Sabtu dan Minggu, di tempat ini/dekat muara yang memiliki ombak lebih besar, sering digunakan untuk latihan selancar.

JembaTan 149s-1